Kamis, 21 Maret 2013

Modernisasi dalam Teori-Teori Pembangunan



                Modernisasi merupakan produk sejarah tiga peristiwa penting dunia setelah masa Perang Dunia II[1]. Pertama, munculnya Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan dominan dunia sejak pelaksanaan Marshall Plan yang diperlukan untuk membangun kembali Eropa Barat akibat Perang Dunia II. Kedua, terjadi perluasan gerakan komunis sedunia oleh Uni Soviet yang secara tidak langsung mendorong AS untuk memperluas pengaruh politiknya juga. Ketiga, lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang mencari contoh model-model pembangunan perekonomian untuk mempercepat kemerdekaan politiknya.
            Teori modernisasi merupakan suatu strategi teoritis yang meliputi berbagai teori yang saling melengkapi. Menurut Sanderson (2010), terdapat tiga asumsi[2] dasar dalam teori modernisasi yaitu: pertama, keterbelakangan cenderung dipandang sebagai suatu keadaan asli (original state), sebagai suatu keadaan masyarakat yang telah ada dalam aneka bentuknya. Pengikut teori modernisasi cenderung memahami keterbelakangan sebagai proses sosial ekonomi yang terjadi sebelum munculnya kapitalisme modern. Pada hakekatnya mereka berpendapat bahwa hanya dengan membentuk masyarakat kapitalis modern maka keterbelakangan bisa diatasi. Kedua, keterbelakangan merupakan akibat dari banyaknya kekurangan yang ada di dalam suatu masyarakat, kekurangan yang disebutkan adalah formasi kapital dan teknik bisnis yang kuno. Ketiga, masyarakat terbelakang biasanya tidak mempunyai kesadaran atau mentalitas yang menawarkan perkembangan. Perkembangan dikatakan terjadi ketika seseorang telah mengadopsi pemikiran rasional.
            Berdasarkan tiga asumsi di atas tersurat bahwa solusi atas keterbelakangan adalah membentuk masyarakat modern melalui formasi kapital dan menciptakan individu rasional. Berkaitan dengan pembentukan formasi kapital, rekomendasi Rostow (1960) mengenai lima tahapan pembangunan menjadi penting[3]. Lima tahapan tersebut adalah: tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan, dan tahap konsumsi massa tinggi. Menurutnya semua masyarakat terbelakang berada dalam tahap masyarakat tradisional yang tidak memiliki modal cukup untuk mencapai titik tinggal landas sebagai syarat pertumbuhan ekonomi secara cepat.
            Jika dilihat dari aspek ‘menciptakan sikap mental rasional’, ajaran modernisasi tumbuh dari teori Hagen dan Mc Clelland yang mendasarkan perubahan sosial aspek psikologi (motivasi individu untuk berubah). Hagen mengemukakan bahwa pertumbuhan[4] yang menjadi tujuan kebanyakan masyarakat tidak akan terjadi tanpa perkembangan kreatifitas dalam kepribadian. Kepribadian  yang penting untuk perubahan sosial adalah pribadi yang inovatif dimana ia memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk memelihara dan meyakini nilai-nilainya sendiri sehingga terdorong untuk berprestasi. Serupa dengan Hagen, Mc. Clelland juga memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan, khusunya pada pertumbuhan ekonomi melalui semangat kewiraswastaan. Tesis dasarnya[5] adalah “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya[6], umumnya akan menghasilkan wiraswastawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat’.


[1] Suwarsono dan So, Alvin Y, 2006,
Perubahan Sosial dan Pembangunan Edisi Revisi, Jakarta, LP3ES, hal.7.
[2]Sanderson, Stephen K, 2010,
Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Edisi Kedua (cetakan ke-50 diterjemahkan oleh Farid Wajidi dan S. Menno, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hal. 234-235.
[3] Rostow (1960) dalam Sanderson, Stephen K, 2010, ibid, hal. 235.
[4] Pertumbuhan ini dimaknai Hagen sebagai pertumbuhan ekonomi, Ia menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dapat didefinisikan menurut peningkatan pendapatan per-kapita terus-menerus yang muncul dari kemajuan teknologi harus dipahami dari sudut kepribadian kreatif.
[5] Sanderson, Stephen K, 2010, ibid, hal. 137-138.
[6] Kebutuhan untuk berprestasi ditafsirkan oleh Mc Clelland sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hasil  dari pengalaman sosial sejak masa kanak-kanak.
 
Poskan Komentar